Toyota Textile… Wait, what??

Rasanya terlalu dangkal apabila alasan saya memilih Toyota sebagai ‘The Most Creative Company’ hanya karena Toyota menempati peringkat 3 ‘The Most Innovative Companies’ 2009 versi businessweek. Di bawah ini adalah cerita bagaimana Toyota membuat saya terkesima.

Bulan Juni lalu saya izin tidak mengikuti perkuliahan untuk pergi ke ShanghaiTex, sebuah pameran mesin industri tekstil. Di sana saya melihat banyak produsen mesin China menjiplak teknologi Jerman. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, karena peristiwa jiplak-menjiplak oleh China ini memang sudah terjadi di hampir semua kategori produk. Dan bukan hal ini yang ingin saya bahas. Suatu ketika saya melihat 2 buah forklift toyota dipajang di sebuah booth. Ini aneh, karena forklift itu bukan produk spesifik untuk industri tekstil. Tapi ternyata di sebehlah forklift tersebut, ada mesin tenun yang terlihat sangat sophisticated, dengan merk TOYOTA. Saya tertawa, saya pikir produsen mesin China juga menjiplak nama Jepang. Tapi ternyata tidak. Ayah saya bilang, Toyota memang terlebih dahulu memproduksi mesin tenun Toyota sebelum memproduksi mobil.

Seorang dosen semester lalu pernah bilang: “Orang yang menguasai teknis di bidang tekstil, pasti menguasai teknis di segala bidang”. Perkataan beliau mungkin benar. Toyota, dengan basis industri tekstil, akhirnya bisa memproduksi mobil meskipun pada mulanya adalah karena dorongan pemerintah Jepang. Soal jiplak-menjiplak, Toyota pun awal mulanya menjiplak produk USA Dodge dan Chevrolet. Kata Oom Wiki, dulu spare parts Dodge, Chevrolet, dan Toyota bisa saling kanibal. Sekarang, Toyota-lah yang pertama kali memproduksi mass-produced hybrid car, Prius. Pernah suatu kali saya ngobrol dengan seorang bule Amerika, yang mengaku lebih senang menggunakkan mobil Toyota daripada mobil Amerika. Katanya, Toyota lebih bandel dan jarang rusak. Saking innovatif-nya, Toyota menciptakan beberapa merk lain. Lexus, Hino, dan Scion. Mungkin kita sudah tahu Lexus. Hino adalah merk truk, sedangkan Scion populer di Amerika dengan mobil-mobil kecilnya (city car).

Sakichi Toyoda mulai memproduksi ATBM (Alat tenun bukan mesin) pada 1890 dan berkembang hingga tenun modern. ATBM masih sering kita jumpai di daerah-daerah pedalaman Indonesia. Barulah pada 1934, putra dari Sakichi memproduksi mesin mobil. Lengkapnya lihat di sini.

Kaizen Concept: Where Creativity Changes Things

Toyota terkenal dengan konsep Kaizen atau Continuous Improvement. Konsep yang terkenal di dunia manajemen ini mengatakan bahwa ide-ide sekecil apapun bisa dilakukan secara terus menerus untuk mencapai kemajuan. Konsep ini cenderung ke arah evolusi daripada revolusi. Revolusi dilakukan secara cepat dan mengorbankan orang-orang yang belum siap, sedangkan evolusi dilakukan perlahan dan berkesinambungan, memberi kesempatan untuk orang-orang melakukan adaptasi. Tidak ada ide yang terlalu kecil untuk dilakukan.

Sayangnya, belakangan ini Toyota lagi apes karena masalah rem yang jebol hingga mengalami penurunan penjualan drastis. Dirut Toyota memang sudah minta maaf di depan publik, dan diharapkan, seiring waktu, keadaan akan membaik.

Bravo Toyota, you have the magic. Turning a textile machine into a car.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: